*Rudi A. Nugroho

Pendahuluan: Pembelajaran Drama yang (Sering) Terpinggirkan
Dalam pembelajaran sastra di sekolah khususnya tingkat SMA, terdapat tuntutan capaian kompetensi sastra. Salah satunya kemampuan mengapresiasi drama (baik naskah maupun pertunjukan). Pembelajaran sastra (khususnya drama) di sekolah banyak yang masih mengalami kendala. Belum tercapainya hasil belajar yang maksimal merupakan dampak dari proses pembelajaran yang kurang tepat pada beberapa aspek.
Salah satu aspek yang sering kali memicu kurang maksimalnya pembelajaran sastra adalah faktor kedekatan siswa dengan karya sastra. Pada beberapa kasus, masih sering ditemukan kondisi pembelajaran yang hanya mengacu pada satu buku ajar yang sering disebut juga ‘buku paket’. Kondisi tersebut jelas tidak menguntungkan bagi beberapa materi. Pada materi sastra, genre yang sering menjadi ‘korban’ adalah prosa (khusunya novel) dan drama.
Drama, dalam hal ini naskah drama, sering kali tidak ditampilkan secara utuh dalam buku ajar. Hal tersebut kemungkinan dikarenakan naskah drama yang cenderung memakan banyak halaman sehingga tidak menguntungkan bagi daya jual buku tersebut. Penggunaan penggalan karya sastra untuk pembelajaran sastra sebaiknya dihindari, mengingat akan berdampak pada pemahaman terhadap makna karya yang tidak utuh.
Penyajian materi atau bahan pembelajaran tambahan selain yang ada di buku ajar juga terkadang masih belum dilakukan. Terlebih lagi materi naskah drama yang lebih sulit ditemui dibandingkan dengan karya sastra yang lain seperti puisi atau prosa. Peredaran naskah drama lebih terbatas dibandingkan dua genre yang lain. hal ini yang juga menyebabkan materi pembelajaran drama di sekolah menjadi kurang maksimal.
Terkait dengan kondisi tersebut, perlu adanya pengkajian terhadap naskah-naskah drama yang ada. Hal tersebut penting mengingat tidak semua naskah drama yang ada cocok untuk dijadikan bahan ajar di sekolah. Untuk pengenalan awal naskah drama di sekolah hendaknya tidak langsung diarahkan pada naskah yang berat baik secara kualitas isi maupun panjang cerita. Penggunaan drama satu babak, akan lebih memungkinkan digunakan dalam pembelajaran. Berikut akan ditelaah berbagai hal terkait dengan potensi-potensi yang dimiliki naskah drama Malam Jahanam karya Motinggo Busye sebagai alternatif materi ajar drama di sekolah menengah atas (SMA).

Sekilas : Pengarang dan Karyanya
Motinggo Busye merupakan sosok yang tidak asing lagi di dunia sastra Indonesia. Lelaki kelahiran 21 November 1937 ini telah banyak menorehkan jejak langkah di dunia sastra Indonesia. Banyak karya sastra yang telah dihasikannya. Salah satu di antaranya adalah naskah drama Malam Jahanam (yang selanjutnya disebut MJ) (Busye, 1958).
Naskah drama MJ ini merupakan salah satu karyanya yang berhasil meraih hadiah pertama dalam sayembara penulisan naskah drama yang diadakan oleh Departemen Pendidikan dan Kesenian pada tahun 1958. Malam jahanam merupakan drama satu babak. Meskipun hanya satu babak, Motinggo Busye mampu menghadirkan keutuhan dan kemenarikan dalam naskah tersebut. Dengan mengambil latar kehidupan kaum marginal di pesisir pantai, Motinggo Busye mencoba mengangkat sisi-sisi khas kehidupan kampung nelayan dengan berbagai konflik yang meliputinya.
Karya Motinggo Busye sangatlah menarik untuk dikaji. Selain karena naskah drama tersebut merupakan pemenang dari sayembara penulisan naskah pada tahun 1958, naskah ini juga memiliki kekuatan pada strukturnya dan konflik cerita yang muncul juga mempunyai daya aktualisasi yang kuat. Drama yang mempunyai tiga dimensi yakni dimensi sastra, gerakan dan ujaran (Tarigan, 1993:75) menuntut kejelian yang tinggi bagi seorang pengarang untuk menghasilkan sebuah drama (naskah) yang berkualitas tinggi. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Motinggo Busye selaku pengarang dari naskah drama MJ mampu mengatasi hal tersebut. Selain itu muatan-muatan cerita (konflik) yang dibangun di dalamnya tetap relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang.

Alur: Sebuah Kesederhanaan dan Daya Surprise yang Tinggi
Berbicara tentang struktur, setiap karya sastra apapun genrenya pastilah mempunyai struktur dan dapat dikatakan mempunyai struktur yang sama. Meskipun ada perbedaan, perbedaan tersebut hanya pada beberapa hal saja yang berkaitan dengan kekhasan dari genre tersebut. Alur merupakan unsur drama yang dapat mengungkapkan peristiwa-peristiwa melalui jalinan cerita yang berupa elemen-elemen yang dapat membangun satu rangkaian cerita. Seperti pada genre drama yang memiliki kekhasan dibandingkan dengan genre yang lain. Drama mempunyai banyak keterbatasan dibanding karya sastra lain, seperti keterbatasan untuk memunculkan suatu objek sesuai dengan imajinasi yang diinginkan dan sebagainya yang berhubungan dengan pementasan khususnya (Semi, 1993:158) Dalam drama lebih didominasi oleh unsur dialog dan unsur-unsur yang lain yang berhubungan dengan pemanggungan atau pementasan. Hal tersebut memang menjadi sangat berterima mengingat naskah drama dihasilkan pastilah mempunyai orientasi akhir pada suatu pementasan. Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu naskah drama haruslah applicable atau dapat diaplikasikan dalam suatu pertunjukan.
Dilihat dari strukturnya, naskah drama MJ ini mempunyai kekuatan pada strukturnya dan bahkan dapat dikatakan sangat baik. Selain itu juga memiliki daya aplikasi yang kuat dalam suatu pementasan. Menurut Kenney (1966:14) : “plot reveals events to us, not only in their temporal, but also in their causal relationships. Plot makes us aware of events not merely as elements in a temporal series but also as an intricate pattern of cause and effects”. Secara umum alur dalam naskah drama ini menggunakan alur maju. Selain itu variasi alurnyapun tidak terlalu rumit bahkan dapat dikatakan sederhana. Alur drama mestilah sederhana dan singkat, dalam arti ia tak boleh berputar-putar ke mana-mana (Semi, 1993:161-162). Walaupun begitu, dari alur yang sederhana itu Motinggo Busye mampu menghadirkan suatu dunia yang cukup hidup. Pengarang juga mampu menghadirkan konflik yang menarik dan sangat jitu dalam menghadirkan realisme kehidupan kampung nelayan yang dipilihnya untuk menjadi latar dari cerita tersebut.
Beberapa konflik ‘naik turun’ juga diterapkan Motinggo Busye dalam naskahnya ini. Ketegangan yang dimunculkan pada tokoh Mat Kontan, Soleman dan Paijah beberapa kali menunjukan perubahan tekanan permainan. Ketika Mat Kontan menjumpai bahwa burung beo kesayangannya mati, dia menampakan kemarahannya yang menjadikan ketegangan dramatik (dramatic tension) mulai menanjak. Selain itu pada adegan ini juga ditambah dengan kegelisahan pula pada tokoh Paijah dan Soleman yang turut andil dalam pembunuhan burung beo milik Mat Kontan. Namun pengarang cukup tepat ketika tokoh Mat Kontan yang pergi ke tukang nujum dengan tujuan mengetahui siapa pembunuh burungnya itu pulang tanpa hasil karena dukun yang didatanginya sudah meninggal. Konflik yang sudah mulai naik terlihat turun kembali.
Akan tetapi dari konflik yang sedikit menurun itulah pengarang justru mampu menghadirkan konflik yang lebih menarik. Mat Kontan semakin mendesak Paijah untuk mengatakan siapa pelakunya. Akhirnya Soleman mengakui bahwa dialah yang membunuh burung beo tersebut. Setelah itu muncul pula persoalan-persoalan yang lain terutama masalah anak. Mat Kontan akhirnya mengetahui kalau Si Kontan Kecil bukanlah anaknya walaupun berasal dari rahim istrinya sendiri. Bagian akhir dari cerita ini juga memunculkan banyak kejutan. Alur cerita yang dihadirkan tidak mudah ditebak. Atau dapat dikatakan tingkat surprise yang terdapat dalam naskah drama MJ ini cukup tinggi.
Tokoh yang Problematik
Kennedy mengatakan bahwa a character, then, is presumably an imagined person who inhabits a story (1983 : 45). Istilah tokoh menunjuk pada pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga sebuah peristiwa mampu menjalin suatu cerita.Tokoh yang dihadirkan dalam naskah drama MJ ini hanya lima tokoh dengan tokoh utamanya yaitu Mat Kontan. Selain itu ada Paijah, Soleman, Utai dan Tukang Pijat. Berdasarkan perannya dalam lakon serta fungsinya dapat digolongkan menjadi tiga yaitu tokoh sentral, tokoh utama dan tokoh pembantu (Waluyo, 2002). Sebagai tokoh sentral, Mat Kontan sangat menentukan gerak langkah cerita. Karakter yang dimunculkan dalam diri Mat Kontan memang dibalut dengan sifat-sifat yang problematik. Dari dia yang gila pada burung, tidak perhatian pada anaknya yang sakit, suka bertaruh, sampai pada tabiatnya yang suka menyombongkan diri. Karekter yang melekat pada diri Mat Kontan-lah yang pada akhir yang menjadi pemicu berbagai masalah atau konflik yang muncul dalam drama tersebut.
Mat Kontan : Ha? Saya tak pernah ngerti? Sayalah orang yang paling ngerti tentang sesuatu di dunia ini saya pikir. (MJ, adegan IV)
………
Paijah : (membelai kepala anaknya yang menangis) Kau tak pernah memikirkan anak saya ini. Tapi di mana saja kau banggakan dia! (MJ, adegan VIII)
……..
Mat Kontan : Bangsat! O, Tuhan! Bilanglah olehmu ya Nabi Adam, siapa yang biadab ini membunuh burung saya. O, nabi Yakub. Bini saya juga bangsat dan bodoh! Kenapa dunia ini makin tolol, Tuhanku? (MJ, adegan VII)
Beberapa kutipan dialog di atas dapat menjadi gambaran bagaimana karekter dari Mat Kontan dihadirkan dalam drama MJ ini. Karakter yang begitu potensial untuk menimbulkan suatu konflik. Tetapi pengarang juga mampu membuat penyeimbang dari sifat keras yang dimiliki Mat Kontan. Motinggo Busye juga memunculkan kelemahan dari tokoh tersebut. Mat Kontan dapat seketika berubah drastis ketika ada hal yang berhubungan dengan kematian yang hendak menjemputnya. Perhatikan kutipan dialog berikut.
Mat Kontan : (Mendengar hal itu jadi kuyu, mukanya berpeluh seperti tersintak dari mimpi, ia lempar goloknya dan melompat memeluk Soleman) Man, sudah kubilang. Jangan ceritakan hal itu. Saya kepingin panjang umur. (Adegan X)
Tokoh-tokoh lain yang dihadirkan juga cukup mendukung cerita atau konflik yang terdapat dalam drama MJ ini. Karakter yang melekat pada tokoh-tokohnya menghasilkan kepaduan yang cukup apik dalam drama tersebut. Sehingga setiap tokoh yang muncul tarlihat sangat mendukung jalannya cerita dan saling melengkapi untuk mewujudkan dramatic action yang berkualitas.
Latar: Daya Kongkretisasi yang Tinggi
Seperti telah dikemukakan pada bagian sebelumnya bahwa sebuah naskah drama dihasilkan adalah dengan orientasi akhir pada suatu pementasan. Dalam hal ini setiap unsur yang membangun naskah drama tersebut harus mempunyai kemungkinan untuk dimunculkan dalan suatu panggung pertunjukan. Salah satu hal yang cukup penting untuk diperhatikan oleh seorang pembuat naskah drama adalah bagaimana menciptakan suatu konsep latar yang mempunyai kemungkinan besar untuk diwujudkan dalam suatu panggung pertunjukan. Unsur kesatuan dan penghematan (Harymawan, 1988:22), menjadi tuntutan penting dalam pembuatan suatu naskah drama. Kesatuan kejadian, tempat, dan waktu harus dibalut dengan penghematan dalam arti suatu pementasan sebuah naskah drama pastilah memiliki keterbatasan di dalamnya. Oleh karena itu sebuah naskah drama juga dituntut memiliki unsur tersebut. Dalam hal ini tentunya dengan tetap memperhatikan kesesuaian dengan aspek-aspek yang lain.
Dipinggir laut kota kami, para nelayan tampaknya selalu gembira, biarpun miskinnya. Rumah mereka terdiri dari geribik, tonggak bambu dan beratap daun kelapa. Suara mereka yang keras dan gurau… (MJ, bagian pengantar cerita)

MALAM INI, perkampungan nelayan itu, dibagian rumah Mat Kontan – dan Soleman tampak sepi. Barangkali hampir seisi kampung pergi melihat ubruk, sebab bunyi ubruk di sebelah timur begitu sayu menikam-nikam. Hanya ujung atap dan tonggak bambu itu tergantung sebuah lentera yang dibantun-bantun angin yang datang dari barat. Ada sebuah ambi bangku di bawah lentera itu, biasa dipakai oleh Soleman untuk duduk-duduk, tapi malam ini bangku itu kosong.
Sepotong rumah yang di hadapan rumah Soleman itulah rumahnya Mat Kontan, seorang yang terkenal sombong di kampung itu. Pintu rumahnya tertutup. Biasanya di sebelah kanan pintu itu ia duduk-duduk di sebuah ambi bangku bambu panjang. Dengan menaiki ambi ini, ia sering bersiul mempermainkan perkututnya yang di sangkar tergantung pada senta atapnya. Di kiri pintunya ada beberapa pelepah daun kelapa teronggok. Dan sebuah tiang jemuran di depan rumah masih disangkuti pakaian malam ini, perlahan terhembus oleh bias yang berembus dari sebalik rumahnya bersama kertas-kertas. (MJ, bagian pengantar latar)
Ketika pertama membaca naskah drama MJ, (kemungkinan besar) langsung dapat membayangkan sebuah panggung pertunjukan yang sesuai dengan kebutuhan ceritanya. Latar fisik yang sangat mungkin untuk diciptakan dalam suatu panggung pertunjukan. Latar sosial dan suasana yang diperlukan dalam naskah drama tersebut juga sangat mungkin untuk dimunculkan. Paparan pada bagian awal naskah ini begitu tepat mengantarkan imajinasi pembaca (penonton) untuk menuju pada suatu situasi sebuah kampung nelayan di pesisir pantai.
Konflik Cerita yang (Selalu) Aktual
Perhatian terhadap konflik adalah dasar dari drama (Harymawan, 1988:9). Dengan hadirnya suatu konflik suatu drama akan mendapatkan suatu dramatic action. Adapun action yang muncul mempunyai dasar yang disebut motif. Dengan adanya motif itulah pada tokoh akan bergerak dan membentuk suatu konflik. Suatu akting yang menjadi dasar dalam drama pastilah mempunyai motif tertentu. Konflik inilah yang nantinya akan sangat mempengaruhi kualitas dari suatu karya sastra khususnya drama.
Dalam naskah drama MJ, konflik yang dihadirkan secara umum dapat dikatakan lingkupnya cukup sempit yaitu lingkup masalah dalam rumah tangga. Memang seperti itulah suatu drama, tidak menghadirkan sesuatu yang bertele-tele tapi memiliki esensi yang tinggi di dalamnya. Tidak terkecuali dalam drama MJ. Walaupun hanya mengangkat masalah dalam kehidupan rumah tangga, esensi cerita yang dihadirkan mempunyai daya generalisasi yang kuat. Ketika ditelusuri lebih dalam, masalah atau topik yang diangkat pengarang sampai menyentuh pada masalah nilai-nilai kemanusiaan yang semakin mengalami degradasi.
Sosok manusia yang mengalami orientasi materialis yang berlebihan dimunculkan dalam diri tokoh Mat Kontan. Tokoh yang cukup problematis dalam drama tersebut. Pengarang mampu meramu kondisi masyarakat (manusia) yang semakin terjebak pada urusan material saja sehingga melupakan hal-hal yang lebih esensi : kemanusiaan. Tokoh Mat Kontan cukup memberikan gambaran bagaimana seseorang sampai mampu meninggalkan sisi-sisi kemanusiaan demi sebuah kesenangan yang egois.
Permasalahan seperti itu terlihat masih cukup dan (mungkin) akan selalu aktual ketika kita mencoba mencermati perkembangan kehidupan dari waktu ke waktu. Selain itu dapat dikatakan justru yang terjadi sekarang ini lebih parah dibandingkan pada masa sebelumnya. Pola-pola hidup materialisme sudah sangat berkembang secara pesat di dunia yang semakin canggih ini. Nilai-nilai yang justru memiliki esensi yang penting dalam kehidupan ini semakin terabaikan.
Selain itu dalam naskah ini juga terdapat sesuatu yang cukup meminta perhatian saya yaitu tentang pola-pola interaksi yang ternyata menjadi pintu masuk pada sisi-sisi “kejahanaman” manusia. Terlihat cukup jelas bahwa ternyata tindakan-tindakan jahanam yang dilakukan tokoh-tokoh dalam naskah drama MJ ini bermula dari pola-pola interaksi yang “salah”. Bagaimana seorang tokoh Paijah yang mempunyai daya tarik yang tinggi bagi para pria diceritakan sebagai seorang yang sering menggunakan pakaian-pakaian yang “menggairahkan”. Ironisnya hal-hal seperti itu mendapat dukungan dari lingkungannya. Lebih ironis lagi peran suami yang seharusnya mampu menjaga istrinya supaya tidak melakukan hal seperti itu, justru bangga dengan kondisi yang semacam itu.
Sedikit gambaran tapi mampu menghadirkan esensi yang besar bahwa kondisi masyarakat (manusia) seperti itu justru akan membawa manusia pada label “manusia jahanam”. Kondisi semacam itu kalau kita hubungkan dengan kondisi sekarang ternyata semakin memprihatinkan. Pintu-pintu jahanam justru semakin banyak macamnya. Yang lebih ironis lagi, masyarakat banyak yang tidak menyadarinya dan cenderung terlena di dalamnya karena “jahanam” tidak selalu menghadirkan penderitaan.
Dari hal tersebut dapat ditangkap bahwa konflik yang dihadirkan dalam naskah drama MJ ini mempunyai daya aktualisasi yang kuat. Permasalahan yang diangkat bukan permasalahan yang mudah termakan zaman. Sebuah naskah drama yang akan (selalu) aktual untuk diwujudkan dalam suatu pementasan dan dinikmati sebagai bahan perenungan.
Penutup: Beberapa Catatan
Perlu diketahui bahwa pembuatan naskah drama memerlukan suatu kejelian dalam diri seorang pengarang. Kejelian itulah yang telah diwujudkan seorang Motinggo Busye hingga mampu menghasilkan sebuah Malam Jahanam yang sangat berkualitas. Sedikit ulasan terhadap kekuatan struktur dramatik pada drama Malam Jahanam semoga dapat memberi gambaran potensi naskah ini untuk digunakan dalam pembelajaran drama di sekolah. Semoga dapat juga menjadi sebuah gambaran yang akan mematik minat pembaca untuk mengaktualisasikan naskah drama ini dalam suatu pementasan. Masih banyak hal-hal lain yang belum tersentuh oleh kajian ini yang perlu dikaji lebih mendalam dan dengan kajian yang lebih mutakhir. Malam Jahanam akan tetap menjadi malam jahanam namun yang paling penting adalah usaha dalam diri kita agar tidak terjerumus dalam dunia yang gelap dan jahanam. ****

Daftar Pustaka
Busye, Motinggo. 1958. Malam Jahanam. Jakarta : Departemen P dan K
Harymawan. 1988. Dramaturgi. Bandung : Rosda Karya.
Kennedy, X.J. 1983. An Introduction to Fiction (third edition). Boston-Toronto : Little Brown dan Company
Kenny, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York : Monarch Press.
Semi, Atar. 1993. Anatomi Sastra. Padang : Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.
Waluyo, Herman J. 2002. Pengkajian Sastra Rekaan. Salatiga : Widyasari Press.

13
Dec

contoh kajian sastra

   Posted by: rudiadinugroho   in kajian sastra

silahkan link klik disini

13
Dec

Bahasa Jawa di Tengah Pergeseran Budaya

   Posted by: rudiadinugroho   in Kajian Budaya

Pendahuluan

Sebuah masyarakat tidak akan lepas dari suatu bahasa yang mengikat elemen-elemennya. Komunikasi yang terjadi antar manusia dalam masyarakat selalu menggunakan bahasa sebagai perantaranya. Baik dalam situasi resmi maupun dalam situasi yang tidak resmi. Itulah sebabnya kedudukan suatu bahasa akan sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkup kecil (keluarga, RT, desa) maupun besar (negara, dunia).

Indonesia merupakan sebuah negara dengan banyak daerah atau pulau yang menjadikan Indonesia disebut negara kepulauan. Setiap daerah antar pulau-pulau tersebut maupun dalam suatu pulau itu sendiri memiliki arakteristk masing-masing. Berbagai konvensi maupun budaya-budaya lokal tumbuh dan dikembangan oleh pemiliknya (warga lokal tersebut). Banyaknya budaya lokal yang ada di Indonesia itulah yang menjadikan Indonesia sebagai negara multikultural.

Keanekaragaman yang terjadi sedikit banyak menjadi masalah, khususnya dalam kaitannya dengan hubungan antar daerah menuju kesatuan negara Indonesia. Kebutuhan untuk berkomunikasi yang lebih baik dalam satu lingkup yaitu nasional atau negara, memunculkan suatu kesepakatan bersama (nasional) yang sampai sekarang lebih dikenal dengan Sumpah Pemuda. Salah satu pion penting dari sumpah pemuda itu adalah mengenai penggunaan satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia muncul sebagai solusi dari masalah komunikasi dalam lingkup nasional. Bahasa Indonesia yang diambil dari salah satu bahasa daerah di Indonesia, dalam perjalanannya pun tidak lepas dari berbagai kendala yang menyertainya. Kendala tersebut terjadi khususnya dalam aplikasinya pada berbagai daerah yang pada dasarnya sudah terdapat konvensi-konvensi bahasa tertentu sebelumnya. Belum lagi etika dihadapkan dengan berbagai aspek kebudayaan yang lain.

Dalam makalah ini akan dipaparkan sebuah laporan pengamatan terhadap perkembangan bahasa terhadap eksistensi suatu budaya khususnya budaya lokal. Laporan ini lebih pada suatu kumpulan dari berbagai peristiwa yang terjadi pada diri penulis sendiri dan berbagai peristiwa di sekitar penulis yang mampu penulis amati dan merekamnya dalam memori ingatan. Pengamatan yang dilaporkan ini pun lebih difokuskan pada peristiwa yang terjadi di desa Lebeng khususnya RT 01 RW 02 yang merupakan daerah tempat tinggal penulis. Mengenai rentang waktu yang akan diambil atau dijadikan objek adalah antara tahun 1994-2007. Alasan pemilihan itu adalah karena pada waktu-waktu itulah penulis sedikit banyak sudah mampu mengamati dan merekam kejadian atau peristiwa-peristwa yang terjadi di sekitar penulis. Rentang waktu yang sepanjang itupun tidak semua memori akan dipaparkan dalam laporan ini. Hanya pada bagian-bagian tertentu saja, khususnya yang ada kaitannya dengan perkembangan bahasa khususnya dan budaya pada umumnya.

Perubahan Penggunaan Bahasa Perantara Ditinjau dari Beberapa Aspek dalam Masyarakat

Pada bagian ini akan dipaparkan beberapa perubahan kebudayaan yang terjadi di daerah yang menjadi objek pengamatan. Perubahan-perubahan yang dipaparkan terbatas pada rentang waktu yang penulis mampu amati dan merekamnya dalam memori penulis. Untuk perubahan kebudayaan sebelum penulis mampu mengamati dan merekam peristiwa-peristiwa dalam masyarakat dengan baik, tidak akan penulis sampaikan dalam laopran pengamatan ini. Paparan tentang perubahan kebudayaan ini akan dipaparkan berdasarkan aspek-aspek yang ada dalam masyarakat, yang sepengetahuan penulis mengalami perubahan, khususnya perubahan dalam masalah kebahasaan.

Aspek Formal dalam Masyarakat

Aspek-aspek formal yang dimaksudkan di sini adalah seperti pertemuan antar warga (rapat RT, RW, Desa, dsb) dan peristiwa yang hubungannya dengan keagamaan seperti khotbah jumat, pengajian, dan sebagainya. Peristiwa-peristiwa tersebut cukup banyak melibatkan warga dalam pelaksanaannya. Dalam peristiwa itulah terjadi interaksi antar warga. Interaksi-interaksi tersebut jelas tak akan luput dari penggunaan bahsa sebagai perantaranya.

Dari peristiwa yang terjadi, penulis akan mengambil aspek kebahasaan yang digunakan dalam pelaksanaan acara tersebut. Penulis yakin bahwa penggunaan bahasa tertentu dalam suatu acara akan disesuaikan dengan pendengar atau audiennya, dalam hal ini warga masyarakat. Sehingga dengan mengkaji penggunaan bahasa dalam suatu acara, dapat memahami bagaimana kondisi masyarakat tersebut. Terlepas dari capaian komunikasi yang terjadi, penulis berasumsi penggunaan bahasa tertentu telah mempertimbangkan kondisi pendengarnya.

Paparan yang pertama penulis akan mencoba mengkaji suatu acara rutin tahunan yaitu perayaan HUT RI. Dalam bebrapa acara yang pernah penulis alami dari tahun ke tahun terjadi perubahan dalam hal penggunaan bahasa pengantar yang digunakan dalam acara tersebut. Perubahan itu terlihat dari, yang dulu lebih didominasi penggunaan bahasa jawa, pada tahun-tahun setelahnya mulai berkurang intensitas penggunaan bahasa jawa sebagai bahasa perantara dalam acara-acara tersebut. Hingga pada beberapa tahun terakhir penggunaan bahasa lebih didominasi oleh bahasa Indonesia. Pada peristiwa-peristiwa yang lain seperti khotbah yang dilakukan oleh para pemuka agama pada acara-acara rohani, juga penulis rasakan mengalami perubahan.

Perubahan banyak terjadi pada pemilihan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu (informasi) di depan umum. Penulis mencoba mengkaji dari perubahan kondisi dalam pelaksanaan khotbah salat jumat. Kondisi pada beberapa peristiwa ini juga mengalami fenomena yang tidak jauh berbeda dengan peristiwa yang sebelumnya dipaparkan diatas. Terjadi beberapa perubahan, dari yang dulu penyampaiannya lebih didominasi bahasa jawa dan hampir seluruhnya bahasa jawa, beberapa tahun terakhir penggunaan bahasa Indonesia mulai mendominasi dlam proses komunikasi yang terjadi.

Dalam satu desa terdapat empat masjid yang digunakan untuk salat jumat (termasuk di dalamnya khotbah jumat). Dari empat masjid yang ada tersebut, saat ini hanya ada satu masjid yang dalam penyampaian khotbahnya menggunakan bahasa jawa. Untuk masjid-masjid yang lain, dominasi penggunaan bahasa Indonesia sudah cukup terasa, bahkan ada satu masjid yang sudah menggunakan bahasa Indonesia hampir secara keseluruhan.

Dalam pertemuan-pertemuan resmi yang lain (yang pernah penulis ikuti) juga terjadi fenomena yang hampir sama meskipun dengan kadar yang berbeda. Ungkapan seperti “monggo kita bersama-sama menyukseskan acara ini…” dan masih banyak lagi yang lain, menunjukan bahwa percampuran bahasa suadh menjadi halyang sangat berterima dalam masyarakat. Dalam pengkajian bahasa sering disebut dengan campur kode. Dan ternyata hal tersebut sangat tidak menghambat komunikasi yang dilakukan antar penuturnya. Memang kadang beberapa orang akan sedikit merisaukan hal tersebut. Namun orang-orang yang merisaukan itu hanya dari beberapa orang yang dilihat dari usia sudah tua. Tidak dapat dipungkiri memang ketika orang-orang tua tersebut merisaukan hal tersebut karena sebelumnya mereka lebih banyak menggunakan bahasa jawa. Ketika harus memaksakan pada penggunaan bahasa jawa sebagai perantaranya, mereka justru akan berhadapan dengan kepentingan orang yang jumlahnya lebih banyak.

Beberapa paparan fenomena dalam lingkup formal, memang terlihat jelas bahwa aspek kebahasaan banyak mengalami perubahan. Memang aspek formal dalam masyarakat belum sepenuhnya menggambarkan kondisi budaya masyarakat yang sesungguhnya. Namun bukan berarti aspek tersebut tidak dapat dijadikan salah satu indikator yang penting dalam masyarakat. Penulis yakin bahwa peristiwa-peristiwa kolektif juga akan menunjukan kondisi aspek-aspek kolektif atau aspek-aspek budaya dalam masyarakat pada saat itu. Untuk lebih menguatkan bagaimana perubahan yang sudah terjadi dalam masyarakat, khususnya tentang aspek kebahasaan, berikut akan dipaparkan kondisi aspek-aspek yang lain yang terjadi dalam masyarakat.

Aspek Informal dalam Masyarakat

Situasi informal atau non formal berbeda dengan situasi formal. Dalam situasi informal ini proses komunikasi lebih didasarkan pada hubungan yang lebih mendalam dan dan kebutuhan komunikasi secara murni. Dan biasanya komunikasi yang terjadi didasarkan pada keakraban dan kekeluargaan.

Budaya jawa yang masih dianut masyarakat sedikit banyak tetap memberi pengaruh yang kuat dalam hubungan antar individu. Tata krama, unggah-ungguh termasuk dalam etika berkomunikasi dalam budaya jawa. Pada waktu yang dulu-dulu (seingat dan sepengetahuan penulis), terlihat tata krama dan unggah-ungguh masih belum begitu banyak  menunjukan perubahan yang berarti pada aplikasinya oleh masyarakat dalam konmunikasi keseharian. Sepengetahuan penulis, memang tata krama dan unggah-ungguh sudah terlihat kurang dipahami oleh masyarakat terutama pada masyarakat golongan bawah. Tidak dapat dipungkiri memang, ternyata untuk dapat memperlajari dan memahami adat-adat dari kebudayaan jawa yang tergolong halus perlu dasar-dasar tertentu yang harus dimiliki, seperti kemampuan kognitif atau tingkat pendidikan.

Golongan bawah dalam masyarakat mempunyai jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan golongan yang lain. Komunikasi yang terjadi antar individu pada golongan bawah lebih ditekankan pada kebutuhan pragmatis. Kebanyakan komunikasi yang terkadi tidak mengenal adat-adat jawa yang halus. Karena pada tataran ini komunikasi disandarkan pada kebutuhan komunikasi yang mendasar. Jadi penggunaan bahasa hanya didasarkan hanya pada ketersampaian informasi antar penutur, aspek-aspek lain seperti keindahan, ketepatan intonasi, dan sebagainya kurang diperhatikan.

Golongan bawah yang secara jumlah cukup mendominasi masyarakat, yang menjadikannya sebagai kelompok mayoritas. Sebagai kelompok mayoritas, golongan bawah lebih mudah untuk memegang kendali dalam setiap perubahan budaya yang terjadi. Hanya saja dengan keterbatasan kemampuan yang ada pada golongan ini, kendali yang sebenarnya dimiliki tersebut sering tidak disadari. Kelompok masyarakat yang lebih memahami dan menguasai budaya jawa yang lebih baik, pada sebagian masyarakat menjadi kelompok minoritas. Hal ini membuat kondisi semakin tidak menguntungkan untuk keberlangsungan budaya jawa secara lebih baik.

Golongan bawah yang mempunyai keunggulan dari segi kuantitas atau jumlah, membuat sebagian besar komunikasi non-formal yang terjadi dalam masyarakat, melibatkan golongan tersebut. Sehingga tidak heran apabila pada banyak proses komunikasi golongan minoritas terpengaruh oleh golongan mayoritas. Komunikasi yang terjadi dalam masyarakat memang sebagian besar masih didominasi oleh bahasa jawa. Namun antar golongan dalam masyarakat dalam penggunaan bahasa jawanya mempunyai banyak perbedaan dalam hal penguasaan, motif, dan sebagainya.

Fenomena yang terjadi di daerah yang menjadi objek pengamatan sekarang ini seperti yang dipaparkan sebelumnya, bahwa hampir semua elemen masyarakat sudah sedikit banyak terasingkan dari budaya jawa yang sarat dengan nilai-nilai tertentu. Bahasa jawa yang digunakan dalam masyarakatpun sudah cukup berjarak dengan kebudayaan jawa yang tradisi.

Proses Transformasi Kebudayaan: Sebuah Tinjauan Pendidikan Pada Anak.

Regenerasi merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dalam suatu masyarakat. Hal tersebut terkait dengan kondisi fisik manusia yang terbatas pada usia, yang pada akhirnya akan mengalami masa di mana secara fisik sudah tidak dapat menjadi bagian dari masyarakat. Mengingat pada kondisi itulah suatu regenerasi diperlukan demi kelangsungan suatu masyarakat termasuk budaya di dalamnya.

Dalam kaitannya dengan suatu budaya yang memerlukan pemilik sekaligus pelestarinya, suatu masyarakat memerlukan transformasi kebudayaan pada setiap generasinya agar kebudayaan tetap memperoleh eksistensinya. Pendidikan terhadap anak sebagai calon generasi dimasa yang akan datang baik secara formal maupun informal menjadi sangat penting. Pendidikan formal seperti pada pendidikan di sekolah, sedangkan pendidikan non-formal atau informal terjadi di luar sekolah, seperti keluarga dan dalam masyarakat.

Paparan dalam laporan pengamatan ini lebih ditekankan pada proses pendidikan di lingkup informal. Proses pendidikan dalam lingkup informal memegang peranan penting dalam perkembangan anak. Hal itu karena dilihat dari proporsi waktu seorang anak bersinggungan dengan situasi informal jauh lebih banyak dibandingkan dengan situasi formal (sekolah). Suatu proses komunikasi yang terjadi dalam masyarakat khususnya yang bersinggungan dengan seorang anak akan cukup bersar pengaruhnya terhadap pembentukan dasar si anak.

Proses komunikasi yang terjadi dalam masyarakat seperti sudah dipaparkan pada bagian sebelumnya, menunjukan adanya suatu fenomena komunikasi yang kurang menguntungkan bagi keberlangsungan suatu budaya tradisi dalam hal ini budaya jawa. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap kondisi perkembangan anak, entah disadari atau tidak oleh masyarakat. Proses komunikasi yang sedemikian rupa yang dilihat dan diamati oleh si anak, sedikit banyak akan menganggapnya sebagai sesuatu yang terjadi sewajarnya dan mungkin sekali terjadi pembenaran-pembenaran personal yang dilakukan oleh si anak tanpa sepengetahuan orang di sekitarnya bahkan orang tuanya.

Dalam masyarakat juga banyak terjadi fenomena perkawinan di usia muda. Hal itu sedikit banyak juga akan menjadi sesuatu yang kurang mendukung pada perkembangan anak-anak mereka. Pemahaman mereka yang belum juga maksimal terhadap hal-hal diluar dirinya termasuk di dalamnya kebudayaan jawa dan khususnya bahasa jawa, akan menjadi kurang maksimal juga ketika dia menjadi orang tua dan memberikan pembelajaran pada anak-anak mereka mengenai kebudayaan jawa. Dengan kondisi yang semacam itu, sangatlah mungkin pada generasi setelahnya budaya jawa akan mencapai tahap kritis, dan mungkin sekali mencapai tahap di mana kebudayaan hanya menjadi salah satu dokumentasi suatu masa.

Pemahaman yang semakin berkurang terhadap budaya jawa khususnya bahasa jawa karena berbagai faktor, membuat banyak orang mulai mencari alternatif lain. Pada beberapa masyarakat penggunaan bahasa indonesia sudah mulai menunjukan perkembangannya, termasuk pada aspek formal yang pada bagian sebelumnya sudah dipaparkan. Pada lingkup informal, komunikasi yang melibatkan anak usia dini juga sudah banyak menunjukan fenomena-fenomena menarik khususnya berkaitan dengan penggunaan bahasa indonesia. Sebagai contoh pada banyak kejadian, ujaran-ujaran yang dulu sering terlontar seperti namine sinten?, pun maem dereng?, pun papung dereng?, dan sebagainya sekarang sudah semakin jarang terdengar. Sekarang justru banyak ujaran-ujaran terhadap anakusia dini dengan menggunakan bahasa indonesia, seperti Namanya siapa? Sudah makan belum? Sudah mandi belum?. Sehingga tidak heran jika sudah banyak bahasa ibu yang berganti dari bahasa jawa menjadi bahasa indonesia bahkan bahasa inggris, padahal sebenarnya sedikit banyak masih menganut budaya jawa.

Kondisi seperti tersebut di atas menjadi suatu fenomena yang kurang baik bagi kelestarian bahasa jawa pada khususnya dan budaya jawa pada umumnya. Fenomena-fenomena seperti dipaparkan di atas, menjadi suatu proses pengasingan sejak dini terhadap budaya jawa. Dengan kondisi itu anak tidak akan mempunyai kepemilikan yang lebih terhadap budaya jawa.

Kebutuhan akan aktualisasi dalam berbagai bidang memang menjadi sesuatu yang sah-sah saja. Namun di sisi lain kita juga harus menyadari bahwa di tengah proses aktualisasi kita juga perlu menjaga kelestarian budaya yang merupakan warisan yang tak ternilai harganya. Dalam lingkup formalpun kondisinya tidak jauh berbeda penggunaan bahasa pengantarnya sudah diarahkan pada bahasa indonesia, sedangkan bahasa jawa hanya ditempatkan sebagai salah satu mata pelajaran dengan durasi cukup minimal untuk sebuah proses pembelajaran kebudayaan. Bahkan tidak jarang dilihat dari materi yang diajarkan masih jauh dengan yang diharapkan.

Perkembangan anak akan sangat dipengaruhi lingkungannya. Kondisi lingkungan yang mempunyai perilaku bahasa tertentu, juga akan berimbas pula pada pembentukan karakter anak tersebut, dalam hal ini khususnya pembawaan bahasa yang digunakan. Ketika dari usia dini anak tidak dibimbing untuk mengenal budaya tradisinya, kedepannya akan sangat sulit bagi anak tersebut untuk melestarikan budaya yang dimaksud, dalam hal ini budaya jawa.

Peran Televisi Dalam Perubahan Budaya

Perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir dapat dikatakan sangat pesat. Di daerah yang dijadikan objek pengamatan dalam laporan ini juga mengalami fenomena yang sama. Dalam paparan ini, penulis akan menggambarkan salah satu perkembangan teknologi yang ada, yaitu televisi.

Televisi saat ini menjadi barang yang sangat biasa dimiliki oleh seseorang. Memang sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya di mana televisi menjadi salah satu barang mewah dan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Seiring berkembangnya jaman memang tidak mustahil kalau hampir di semua rumah di daerah yang dijadikan objek pengamatan tersebut, sudah memiliki televisi sendiri.

Kondisi tersebut pada beberapa aspek dinilai sangat positif bagi perkembangan masyarakat, karena dengan adanya media tersebut arus informasi yang dibutuhkan masyarakat akan dengan cepat diterima. Namun di sisi lain ada sesuatu yang terkena imbas yang kurang baik dari kondisi tersebut, seperti persinggungan antar warga yang sebenarnya dapat membantu kelestarian budaya lokal, menjadi sangat berkurang. Orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah masing-masing menikmati sajian-sajian infomasi dan hiburan yang ditayangkan melalui televisi. Dan yang lebih tidak menguntungkan lagi adalah sajian yang mendukung kelestarian budaya lokal sangat sedikit sekali disinggung bahkan tidak pernah. Sajian-sajian yang dihadirkan lebih pada budaya-budaya populer yang sering kali bersebrangan dengan budaya lokal. Persinggungan-persinggungan antar warga yang biasanya dilakukan untuk mengisi waktu senggang, entah untuk membicarakan kondisi sekitar atau apapun, menjadi sangat jarang sekali dijumpai sekarang ini. Budaya-budaya baru yang disajikan di televisi sangat cepat sekali membius masyarakat. Kondisi-kondisi itulah yang sekarang ini penulis rasakan dan mungkin dalam kacamata yang objektif, penulis juga masuk dalam arus perubahan tersebut.

Penutup

Pada bab sebelumnya dipaparkan kondisi beberapa aspek dalam masyarakat yang berkaitan dengan pergeseran penggunaan bahasa perantara. Kajian dari beberapa aspek tersebut seperti aspek formal, informal, pendidikan anak dan perkembangan teknologi, memunculkan fenomena-fenomena yang tidak jauh berbeda, khususnya dalam kaitannya dengan aspek kebahasaan.

Kiranya dapat penulis simpulkan bahwa ada suatu pergeseran budaya pada umumnya dan khususnya bahasa, di daerah yang dijadikan objek pengamatan dari laporan ini. Dan ketika dianalogikan pada lingkup yang lebih luas, penulis kira terjadi fenomena yang tidak jauh berbeda.

Kebudayaan lokal memang terkadang menjadi kurang bernilai ketika dihadapkan dengan kebudayaan yang lebih besar. Namun hendaknya kita tidak begitu saja menerima kebudayaan yang baru dan meninggalkan budaya lama (tradisi). Perlu disadari bahwa kebudayaan lokal merupakan aset bangsa yang sangat berharga, dan tidak ada yang dapat melestarikan kebudayaan itu kalau bukan pemilik budaya itu sendiri. Kalau hanya untuk sekedar mendokumentasikan kebudayaan, banyak orang yang dapat melakukannya, tapi apa itu yang kita harapkan, kebudayaan hanya sebagai dokumentasi yang akan terpajang pada rak-rak buku di perpustakaan, toko buku atau tempat-tempat lainnya? Jawaban itu ada pada diri kita masing-masing.

Demikian laporan pengamatan yang dapat panulis paparkan, yang memang sepenuhnya tidak lepas dari subejektifitas penulis. Penulis harap dengan adanya laporan ini, kiranya dapat menjadi pematik semangat bagi kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik untuk kelangsungan kebudayaan lokal dan untuk tercapainya budaya nasional, tanpa harus ada budaya yang terpinggirkan.